
1 tahun terakhir ini sedang naik daun sebuah cafe di Bandung bernama “Ngopi Doeloe”. Sewaktu saya di Bandung pun pastinya mencoba tempat ini, diajak oleh salah satu teman saya, saya nokrong di cafe yang berada di darah dago ini. Mmm..nice tempatnya, nyaman dan banyak orang yang datang kesini. Beberapa hari kemudian pun saya pergi ke cafe ini dan tetap rame pengunjung. Tentunya saya penasaran apa yang menjadikan tempat ini cukup diminati anak nokrong di Bandung. Lalu saya membuka laptop, lalu saya menulis artikel ini sambil sedikit mengamati mengapa tempat ini cukup rame pengunjung.
Pertama saya lihat dari konsumennya. Menurut saya target marketnya umumnya anak-anak muda, anak mahasiswa sepertinya karena sebagian besar yang datang adalah, namun meja depan saya pun ada sekumpulan bapak-bapak. Berarti, meskipun target marketnya adalah anak muda, dia berhasil pencuri pangsa pasar yang lain. Wah hebat donk kalau begitu. Umumnya mereka datang bersama teman mereka untuk nongkrong disini atau sama pacar mereka, tetapi ada juga yang sendiri hanya membuka laptop yang browsing. Dan memang, saya lihat setengah dari pengunjung disini membawa laptop mereka karena tempat ini mempunyai fasilitas free wifi. Nah, itu salah satu senjata cafe ini yang pertama saya lihat. Coba kita lihat dari 7 P analisis, membosankan memang kalau mendengarkan teori 7 P, tapi saya yakin dengan analisa ini akan memperlihat mengapa cafe ini bisa sukses seperti ini.
Produk
Apabila kita bicara masalah produk ice capucinno yang saya pesan ini, biasa saja rasanya. Bahkan menurut saya sih ga ada bedanya sama nescafe capucino (itu pendapat saya lho). Bakmie yang saya pesan menurut saya, dari segi kualitas rasa pun tidak terlalu enak. Sebagai penggemar bakmie, saya katakan rasa bakmienya 6.5 lah, kopinya juga standar. So, dapat diambil kesimpulan kualitas dari produk yang dia sediakan tidak terlalu bagus apabila dilihat dari sisi rasa.
Place
Tempatnya cukup strategis, berada di daerah dago dan di tengah kota. Dulu disini ada cafe namanya potluck, tapi semenjak pindah sepertinya jadi sepi. Memang jarang ada cafe seperti ini di tengah kota bandung. Yang ada juga di daerah atas, namanya roumah kopi. So, dengan tempatnya yang cukup strategis dan berada di daerah dago yang diyakini beberapa orang sebagai daerah gaulnya bandung membuat cafe ini mudah dan banyak dikunjungi.
Price
Nah, ini salah satu yang penting. Ice capucino yang saya minum sekarang harganya hanya Rp 15.000,00. Bayangkan coba, ada lagi kopi tubruk yang haranya hanya Rp 9.000.00. Nah, jadi wajar donk kalau tastenya biasa saja, harganya pun cukup murah. Rata-rata harga kopinya 15.000 an.
Promotion
Saya tidak melihat adanya promosi ATL atau BTL yang dilakukan oleh cafe ini. mereka benar-benar mengandalkan strategi word of mouth marketing. Dengan mengandalakan karakteristik orang Bandung yang memang suka bercerita dan mempromosikan sesuatu, cafe ini memaksimalkan word of mouth marketing strategy nya.
People
Pelayanan yang diberikan tentunya tidak sebaik starbucks donk, kopi yang saya pesan ini saja agak lama datangnya. Yaaa…tapi cukup baik lah mereka.
Process
Disini pun tidak terlalu baik, kopi yang sedang saya minum sekarang agak lama datangnya. Mungkin karena terlalu banyak pengunjung, sehingga pelayanan mereka jadi sedikit lebih lama juga.
Physical evidence
Wah, ini juga bagus. Saya suka tempatnya, suasananya yang homie membuat saya betah berada di dalam cafe ini, ditambah fasilitas free wifinya yang diberikan, membuat pengunjung ingin mengunjungi kembali tempat ini. di dalam pun ada beberapa sofa, juga ada mainan dingdong yang memerunik tempat ini. ditambah lagu yang jazzy.

Nah, apabila kita lihat dari analisis 7 P diatas. Terlihat mengapa cafe ini cukup laku. Meskipun produk yang dia miliki tidak terlalu baik kualitasnya dari segi rasa. Akan tetapi, mereka mampu menutupi hal tersebut dengan berbagai kelebihan yang mereka miliki. Diantaranya harganya yang cukup murah, selain itu juga tempatnya yang berada di tengah kota dan diyakini sebagai tempat gaul, membuat orang ingin datang kesini. Apalagi ditambah fasilitas free wifi membuat konsumen semakin tertarik datang ke tempat ini. cafe ini berhasil menyesuaikan dengan karakteristik orang bandung yang cukup sensitif mengenai harga dimana umumnya konsumen disini tidak terlalu mengedepankan masalah kualitas dari rasa ataupun pelayanan, asalkan tempatnya enak dan harganya cukup murah. Inilah yang berhasil dilakukan oleh ngopi doeloe. Apabila kita lihat dari rumus customer valuenya
customer value= (perceived of quality)/(perceived of risk)
Real quality dari produknya memang rendah, tetapi hal tersebut ditutupi oleh tempatnya yang enak, nyaman dan fasilitas yang diberikan, sehingga nilai perceived of quality yang dimiliki oleh tempat ini cukup besar. Harga yang murang menurunkan nilai perceived of risk nya. Kedua hal tersebut menyebabkan customer value dari cafe ngopi doeloe di mata konsumen cukup besar. Strategi word of mouth yang dilakukan memanfaatkan pengunjung yang puas ke tampat ini, puas disini dalam artian mereka senang nongkrong disini karena harganya murah dan tempatnya enak (see,,mereka bukan puas karena kualitas dari produknya kan), pengunjung tersebut menjadi talkers untuk strategi word of mouth mereka dan buzz!!!sampai sekarang jadinya cafe ini menjadi cafe baru yang cukup sukses di kota Bandung. Any comment marketer???
Regrads.
Bayu Seto
Email : bayuseto21@yahoo.com
YM : busanamuslim_ayunda@yahoo.com
Blog : bayuseto21.wordpress.com
Posted by mv on January 25, 2009 at 6:34 am
Wow anda boleh menilai juga ya.. http://marketvaluer.blogspot.com
Posted by ichiel on February 2, 2009 at 7:56 am
lifestyle anak muda di masa kini kan memang mirip kaya jaman bapak2 kita dulu “makan ga makan yang penting ngumpul”. jadi bisa kita lihat, kalo skrg anak2 muda itu cenderung lbh memikirkan hal-hal kaya atmosfir/ambiance suatu tempat dibandingkan dengan kualitas dr produk itu sendiri..
harga sebenernya mahal murahnya relatif..bisa kita liat dari kafe-kafe yang menjamur di daerah Kemang.sebagian bsr menawarkan hrg yang sama dan rasanya pun sama. tp apa yang mrk cari?? mereka mencari “ambiance” dr tempat itu.
ada 1 tmpt di daerah kemang.. produk yang ditawarkan sama, hrg nya pun serupa, tp toh tetep sepi tuh..kenapa?? jawabannya adalah ” tempat itu krg PW” ato ” tmpt itu kurang happening” well, ternyata suasana emang sangat berpengaruh utk tmpt2 semacam itu…huhuhu..